JODOH
TUHAN UNTUKKU
Sulit mengartikan sebuah
cinta. Cinta. Anak kecil pun tahu apa kata cinta. Tapi, di sekian banyak orang
hanya sebagian orang yang tahu arti cinta, yang mengerti apa itu cinta,
bayangkan. Termasuk aku sendiri, masih bingung apa itu cinta.
Al sejarah. Dulunya aku suka
sekali dengan cinta. Tak peduli apa itu cinta sebenarnya. Aku hanya terpikat
karena ulah teman-temanku. Di hatiku aku hanya mementingkan kesenangan bukan
kebahagian, yang penting akunya happy, sudah cukup bagiku.
Aku memang nggak banyak tahu
tentang agama. Ketika itu aku masih usia pelajar SMP yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti ajaran
taklid buta, itulah istilahnya. Dengan arti ikut-ikutan.
Ketika aku lulus SMP. Aku
memilih melanjutkan sekolah dengan seragam putih abu-abu. Aku memilih tinggal
bersama paman. Aku merasa lelah,bahkan bisa di bilang bosan tinggal bersama
orang tua. Aku tahu kata-kata itu tak seharusnya keluar dari mulutku. Tapi
memang kenyataannya seperti itu. Aku nggak mengerti apa yang mereka inginkan. Selamaku
sadar rumah tanggaku tak pernah harmonis. Ayah dan ibuku tak pernah sependapat.
Bisa dibilang di ujung tanduk. Aku tak bias berkata. Aku benar-benar frustasi.
Entah perasaan apa di hatiku tersirat tak ingin lagi hidup.Aku hanya bias
pasrah, bersedih, dan menerima apa yang sudah terjadi.
Ketika aku SMA, aku bersama keluarga
baru. Bersama keluarga paman. Tak ada lagi kebisingan yang kudengar, tak ada
lagi keributan. Kurasa itu lebih nyaman. Tapi aku salah, hidupku bukan semakin
membaik. Aku terlalu lalai, terlalu larut dalam kenyamanan, sehingga aku merasa
jiwa ragaku bebas. Aku lalai dengan kehidupan.
Sebagai orang yang bodoh. Aku
bahkan tak memahami tak bisa memilih antara yang baik dan yang buruk. Jelasnya,
aku berteman dngan orang yang salah aku tak bisa memahami diriku sendiri. Tak
pernah terpikir olehku bagaimana yang di ktakan teman dan sahabat. Aku hanya
meng iya kann perkataannya. Aku tak sadr aku telah di bodohi, aku telah di
tenggelamkan dalam awan yang hitam. Aku suka bercinta, aku suka berfoya-foya
tanpa terpikir olehku keadaan keluarga ku disana(orang tuaku). Aku melihat
laki-laki dari segi penampilan dan material.
Aku hanya ingin aku senang.
Karena aku sadar aku dilahirkan oleh keluarga serba kekurangan. Di pikiranku
aku hanya ingin uang. Karena aku telah tenggelam dalam hipnotis temanku. Ketika
aku beranjak kelas 2 SMA. Aku tertarik dengan seseorang laki-laki yang kukenal
di sekolah sebagai abang kelas. Aku kagum, akan
ketampanannya. Aku benar-benar terpikat sehingga aku mencoba menghubunginya.
Dan… ternyata dia merespon.
Alangkah senangnya. Hatiku benar-benar senang, melayang rasanya. Entahlah, aku
mengira ini mungkin cinta yang sebenarnya, cinta yang membuat hati manusia
berbunga-bunga. Ketika penyakit cinta itu kambuh.
Kisah cinta kami pun berjalan,
terbersit dalam hati. Apakah ini jodoh tuhan untukku. Yang dulunya aku suka
laki-laki yang bermateri, bahkan saat bersama laki-laki ini, sedikit pun tak
terpikirkan olehku tentang materi. Inilah jodohku.
Ternyata aku sulah besar.
Semakin jauh aku menjalani hubungan itu. Semakin jauh pula aku tahu banyaknya
kekurangan yang ada pada laki-laki ini. Kekurangan yang memang aku tak bisa
terima. Aku tak suka hidupku di atur. Orang tuaku yang mengaturku yang
mengaturku saja, aku bisa tak suka. Apalagi seorang laki-laki yang hanya status
pacar berani mengatur. Semakin lama pikiranku semakin ke posisi negatif tentang
laki-laki ini. Semakin lama aku semakin bosan dengan hubungan ini. Dan
kemudian, aku berniat meninggalkan laki-laki ini dengan cara apa pun. Tanpa aku
memikirkan perasaannya. Nggak tahu cara apa yang harus ku lakukan.
Dan, lalu ada seorang laki-laki
yang tiba-tiba menghubungiku. Tanpa identitas, dia hanya menanyakan kabarku dan
lalu memutuskan pembicraannya. Suara itu membuat ku penasaran. Siapakah
gerangan itu. Ternyata dia salah satu laki-laki dari masa laluku, yang entah kenapa
tiba-tiba laki-laki ini muncul dalam kondisi
yang benar-benar bagus. Dimana saat ini aku ingin menjauh dan mencari
alasan untuk bisa meninggalkan pacarku yang sekarang. Tak hanya pacar aku juga
menghindar dari teman terburuk yang pernah ku kenl itu. Yah.. bisa di katakan
buruk. teman yang mengajakku ikut
bersamanya ke neraka.
Sasaran yang tepat aku lngsung
melanjutkan hubunganku dengan laki-laki ini dan dengan lantang meninggalkan
pacarku. Dengan alasan aku masih cinta pada mantanku."Hanya itu yang jai
penyebab hubunganku dan kamu berakhir“ Kataku padanya. Dan dengan emosi besar
dia menjawab. “oh.. begitu, baiklah, anggap saja tidak ada perkenalan di antara
kita, assalamualaikum!“. Dan aku menjawab “ wa’alaikumsalam“. Hmmm… pikiranku
menjadi tenang, lega, bangga, dan merasa bebas dan kurasa ku telah memilki
segalanya. saat aku jalani hubunganku dengan mantan pacarku, dan sekarang
berubah status kembali menjadi pacarku. Aku juga merasa cocok dengan laki-laki
yang sekarang. Cocok dari segi material. Secara, laki-laki ini punya pekerjaan
yang mapan, keturunan dari keluarga yang bermateri. Aku merasa ia sudah cukup
bagiku dengan hasrat tak ingin ku lepas lagi apa yang sudah ku genggam. Aku
merasa bangga, punya kekasih sepertinya. Apalagi kedua orang tuanya telah
menyetujui hubungan kami. Tunggu apalagi, kurasa memang itulah saatnya jodoh
itu milikku.
Orang tuaku yang tak menyukai
laki-laki tersebut sehingga mereka tak menyetujui hubungan kami, termasuk
keluarga besarku. Mereka selalu menitip pesan kecil untukku. “carilah jodoh
sesuai agamamu, yang bisa membawamu ke surga. Tuntutlah ilmu disaagt muda,
jodohmu akan datang untukmu jika kamu berilmu, itulah bekalmu untuk hari tua“.
Aku menganggap perkataan itu hanya siraman kalbu setiap hari yang ku dengar.
Bahkan aku tak mau peduli lagi dengan kalimat yang sudah menjadi makananku
sehari-hari. Aku tak peduli apa kata orang tuaku. Hyang aku pertahankan hanya
ingin terus bersama kekasihku. Kurasa inilah cinta. Cinta yang membuat buta, tapi
bukan buta mata tapi buta hati. Seorang wanita yang memang benar-benar buruk, yang di
bodohkan oleh materi. Di butakan oleh nafsu belaka. Hubunganku terus berlanjut
dengan laki-laki ini. Hingga aku lulus SMA.
Untuk merayakan kelulusan ini
aku diajak makan keluar bersamanya. Dimana saat ini aku serasa semakin
melambung bak menyentuh langit-langit bumi, akulah orang yang paling bahagia
hari ini. Aku habiskan waktu seharian bersamanya. Ke esokan harinya, kebahagian
yang aku miliki ku kira tak kan berakhir karna dia seorang anak negara. Dia
hanya mengabdi pada negara. Kami di pisahkan oleh tugasnya. Tugas sebagai
seorang anak negara yang tak bisa elakkan. Dalam waktu setengah tahun, mengejar
pendidkannya. Kemarinnya aku senang, Sekarang lelaki bodoh itu hanya menitipkan
kerinduan yang amat sangat mendalam. Dan yang biasa hari-hariku bersamanya,
sekarang hanya ada rindu. Aku bisa bersabar, aku setia menunggunya kembali.
Berharap ia menjemputku untuk meraih kebahagian bersamanya. Sempat aku terkagum
pada diriku sendiri, luar biasanya kesabaranku menunggunya hingga mendekati
waktu enam bulan. Itu brarti ia akan kembali. Sambil aku melanjutkan
pendidikanku di sebuah universsitas.
Sebulan lagi..seminggu lagi..
aku hampir berhasil bersabar demi seorang laki-laki. Berhasil menemukan cinta,
berhasil menjadi wanita yang mencintai. Sesaat seminggu sebelum ia kembali.
seorang wanita menghubungiku dengan pengakuan“aku pacarnya, seminggu lagi ia
akan pulang. Ia akan kerumahku untuk mempersiapkan semua…. Dan tolong anda
tidak mengganggu hubungan kami, saya harap anda bisa mengerti“. Runtuh rasanya
langit menghantap bumi, kaimat itu berdebgung bagaikan petir berdengung
bagaikan petir menyambarku. Sungguh beum pernah sma sekau aku merasa sesakit
ini, sakit..sungguh sakit, sakit yang tidak aku tahu penawarnya.
kaimat-berdengung bagai nyanyian di teingaku. Seminggu lagi.. aku membayangkan
seminggu lagi kebahagian menjemputku. Ternyata aku salah, kelak kesengsaraan
lebih dulu menjemputku. Dan waktu yang ku tunggu seminggu itupun tiba. Aku
mengambil keputusan, saat ia telah kembali. Kembinya yang duunya ku harapkan
kini berubahinginku musnahkan. Aku ingin penjeasan semua dari nya, dan masih
berharap bahwa, kaimat petir itu bukanah peristiwa yang sebenarnya. Nyatanya
aku salah besar, kaimat-kalimat petir itu bahkan nyata. Nyata kalimat yang sama
keluar dari mulutnya.“ Sebenarnya aku telah memiliki kekasih yang benar-benar
menjadi keseriusanku, sekali lagi aku mohon maaf, bukan niatku buat kamu sakit,
tapi…“ tak ingin aku dengar apa pun lagi dari laki-laki ini. Yang kurasa hatiku
membeku, dadaku tersa sesak, airan darahku serasa berhenti, jantung brhenti
berdenyut,dengan berat mulutku berkata“ sudah cukup, anggap saja kita nggak
pernah saing kena sebelumya“.
Teralalu cepat karma itu
berlaku, duunya aku berpikir, persetan dengan karma. Tapi… itu semua sekarang
menjadi fakta. Bukan sebuah opini yang ku anggab dulu. Sakit, sungguh sakit,
perih, tak bisa ku eakkan. Kesadaran
terlambat menghampiriku. Bahkan aku tak pernah sadar teah menyakiti hati
banyak orang, baru tersadar inikah rasanya tersakiti??
Sungguh keadaan yang
sangat-sangat buruk. Semua terulang,
kalimat itu… kalimat yang sering di ucapkan orang tuaku, kalimat yang ku abaikan,
kata-kata yang tak ku hiraukan. Pikiran ku mulai terbuka, aku terlambat
menyesai perbuatan-perbuatanku. Aku benar-benar telah tenggelam di jurang
kesesatan. Kini aku hanya bisa mengisi apa yang telah tejadi.ingin rasanya ku
putar kembali waktu yang teah berlalu itu. Akan ku perbaiki semua dosa-dosaku.
Seharusnya tak tenggelam sejauh ini,ke dalam jurang dosa. Sakit hati yang ku
rasa, sungguh sangat sakit, aku bingung apa yang akan kulakukan.
Hingga suatu ketika, aku mencoba
mendekati sajadah, dan bersujud, aku menyembah sang kuasa. Di sini, kedamaian,
kenyamanan, dan kebahagiaan ku dapat. Ketenangan jiwaku yang kurasa buat ku
lupa akan rasa sakit itu. Sungguh kebahagiaan yang belum pernah ku rasa
sebelumnya. Disini aku tersadar akan kata-kata orang tuaku. Jodoh bakan datang
jika kita berilmu. Saat ini aku tersadar akan agama, bahwa akan ada akhirat di
ujung sana menungguku. Ini saatnya memperbaiki masa remajaku yang suram. Kini
aku telah menjadi mahasiswa. Artinya aku telah dewasa. Dewasa dalam artian bisa
membedakan yang mana baik dan yang mana buruk. Terus dan terus jadwal harianku
terpadatkan oleh kegiatan kampus dan pengajian. Dengan niat di setiap pagi,“
hidup dengan tujuan orang tua dan akhirat“. Tak pernah lagi terpikir oleh ku
tentang jodoh. Bahkan aku benci lelaki, terkecuali ayahku. Ku rasa laki-laki
itu sama. Hanya memanfaatkan wanita-wanita bodoh. Merusak harkat
dan martabat wanita. Dan disini aku mulai sadar bagaimana tersakiti dan
menyakiti.
Aku menghabiskan waktuku
untuk belajar dan belajar, demi ilmu. Agar aku bisa lepas dari
orang-orang yang membodohiku. Amarahku pada laki-laki membuatku alergi akan
setiap laki-laki yang mendekatiku. Dalam waktu yang terus berlanjut. Masa
pendidikan ku selesai. Aku telah berhasil meraih gelar sarjana, aku telah
berhasil menjadi anak kesayangan orang
tua,aku telah berhasil menjadi apa yang mereka inginkan, dan aku berhasil
meraih ridho Allah.
Kini usiaku beranjak 26 tahun,
dimana aku di sibukkan dengan jadwal sebagai seorang guru. Seorang pendidik. Di
sela waktu aku mengikuti pengkajian di mesjid-mesjid. Suatu ketika orng tuaku
bertanya“ teman-teman mu kini sudah berkeluarga , telah memilki pendamping,
bahkan ada yang sudah punya momongan. Nah kamu sendiri kapan??“.
Terhenyak ku mendengar kata-kata
itu. Tak pernah terpikir oleh ku tentang hal itu. Dan tiba-tiba orang tuaku
menanyakannya. Apa yang harus ku lakukan. Aku bingung, di hadapkan oleh
pertanyaan yang benar-benar buatku
frustasi mendengarnya. Bagiku ini sebuah beban berat. Dan kemudian aku mencoba
menghindar dari pertanyaan itu dengan berusaha mengabaikannya. Walau dihati
terasa nyesek. Pertanyaan-pertanyaan itu setiap tahun berdengung, kata-kata itu
kini kerap kali ku dengar“ kapan kami bisa melihatmu bersama seorang suami??.“.
lagi-lagi aku tak pernah menghiraukannya.
Usia ku sekarang beranjak 30
tahun. Bulan perbulan berlanjut, semua temanku sebayaku telah berkeluarga.
Hanya aku. Aku yang saat ini terasingkan oleh mereka. Aku hanya menatap
kebahagiaan mereka bersama keluarga kecil mereka.. sedangkan aku, aku hanya
sendiri. Disini timbul rasa sedikit iri. Sampai kapan aku mau hidup sendiri.
Sudah berapa banyak laki-laki yang telah ku abaikan. Mereka yang dengan sengaja
kerumah dengan niat yang tulus berhadapan dengan orang tuaku. Mereka menginginkanku,
tapi aku tak pernah berkata iya,setiap mereka yang datang kerumah, aku hanya
menjawab “maaf, aku belum siap“.
Sampai kapan ku terus seperti
ini. Kini dosa besar membayangiku. Dengan berburuk sangka kepada pencipta.
Dengan berpikir “ mungkin aku di takdirkan untuk tidak berjodoh“. Kini di
setiap ibadahku ku selipkan seberkas doa“ ya Allah pertemukan aku dengan
jodohku. Jodoh seagamaku. Jodoh yang bisa membawaku bertemu dengan-Mu dan
nabi-Mu“. Tanpa henti doa itu selalu terucap, aku pasrahkan semua kepada-Nya“.
Kegitanku sehari-hari terus
berlanjut. Menganjar dan pengkajian. Suatu hari seperti biasa, sesudah selesai
mengajar, aku mengikuti pengkajian di sebuah mesjid Al-makmur dimana aku
bersama teman-temanku. teman-teman yang telah memilki keluarga. Terkecuali aku.
Pengkajian Kali ini, terasa berbeda bagiku. Tak biasanya yang pemateri
pengkajian kali ini seorang laki-laki. Laki-laki yang belum pernah ku kenal
sebelumnya. Siapakah dia???? Hatiku terus bertanya-tanya. Tanpa mengeluarkan
pertanyaan itu dari mulutku. Sungguh aneh, perasaan apa yang kurasa.rasa
penasaranku terhadap laki-laki ini sangat besar. Siapa dia???.
Sesat kemudian pengkajian
selesai. Aku pulang dengan hati yang benar-benar aneh. Perasaan apa ini.
Bayangan laki-laki itu saat memberi materi benar-benar buatku terhipnotis.
Terhipnotis akan kelembutannya. Sesaat pikiranku terkejut. Apa aku akan kembali
ke masa laluku?. Masa lalu yang menjerumus itu. Perasaan takut bercampur
senang. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya aku di rumah aku terhentak kaget. Siapakah
gerangan di depan mataku. Siapa tamu ini. Apa ini hanya halusinasiku hari ini
saja. Sekarang di hadapankulaki-laki yang baru saja ku angan-angankan.
Laki-laki yang membuat hari ini beda, bertamu kerumah dengan kedua orang tuanya
dengan bermaksud meminangku.oh… apa ini jodoh Tuhan untukku. Sesaat mulutku
terbungkam, saat orang tuanya menanyakan hal ini. Dan dengan cepat suaraku
berucap“ aku siap, aku benar-benar siap menerimanya dengan nama Allah“,
di usiaku yang ke 30 tahun. Aku
telah berhasilmiliki semua. Terutama jodoh. Jodoh yang dikirim Tuhan untukku.
Ternyata memang benar. Jodoh itu tak perlu di cari. Wanita adalah
penunggu,jodoh di tangan Tuhan. Walau aku menikah di usiaku yang ke 30. Aku
bahagia. Bahagia bersama jodoh yang benar-benar kiriman-Nya. Seseorang yang
bisa memimpin keluarga. Dan insyaallah, dia bisa membawaku nantinya di akhirat untuk bertemu dengan-Nya kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar