Selasa, 30 September 2014

cerpen

JODOH TUHAN UNTUKKU

Sulit mengartikan sebuah cinta. Cinta. Anak kecil pun tahu apa kata cinta. Tapi, di sekian banyak orang hanya sebagian orang yang tahu arti cinta, yang mengerti apa itu cinta, bayangkan. Termasuk aku sendiri, masih bingung apa itu cinta.
Al sejarah. Dulunya aku suka sekali dengan cinta. Tak peduli apa itu cinta sebenarnya. Aku hanya terpikat karena ulah teman-temanku. Di hatiku aku hanya mementingkan kesenangan bukan kebahagian, yang penting akunya happy, sudah cukup bagiku.
Aku memang nggak banyak tahu tentang agama. Ketika itu aku masih usia pelajar SMP  yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti ajaran taklid buta, itulah istilahnya. Dengan arti ikut-ikutan.
Ketika aku lulus SMP. Aku memilih melanjutkan sekolah dengan seragam putih abu-abu. Aku memilih tinggal bersama paman. Aku merasa lelah,bahkan bisa di bilang bosan tinggal bersama orang tua. Aku tahu kata-kata itu tak seharusnya keluar dari mulutku. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Aku nggak mengerti apa yang mereka inginkan. Selamaku sadar rumah tanggaku tak pernah harmonis. Ayah dan ibuku tak pernah sependapat. Bisa dibilang di ujung tanduk. Aku tak bias berkata. Aku benar-benar frustasi. Entah perasaan apa di hatiku tersirat tak ingin lagi hidup.Aku hanya bias pasrah, bersedih, dan menerima apa yang sudah terjadi.
Ketika aku SMA, aku bersama keluarga baru. Bersama keluarga paman. Tak ada lagi kebisingan yang kudengar, tak ada lagi keributan. Kurasa itu lebih nyaman. Tapi aku salah, hidupku bukan semakin membaik. Aku terlalu lalai, terlalu larut dalam kenyamanan, sehingga aku merasa jiwa ragaku bebas. Aku lalai dengan kehidupan.
Sebagai orang yang bodoh. Aku bahkan tak memahami tak bisa memilih antara yang baik dan yang buruk. Jelasnya, aku berteman dngan orang yang salah aku tak bisa memahami diriku sendiri. Tak pernah terpikir olehku bagaimana yang di ktakan teman dan sahabat. Aku hanya meng iya kann perkataannya. Aku tak sadr aku telah di bodohi, aku telah di tenggelamkan dalam awan yang hitam. Aku suka bercinta, aku suka berfoya-foya tanpa terpikir olehku keadaan keluarga ku disana(orang tuaku). Aku melihat laki-laki dari segi penampilan dan material.
Aku hanya ingin aku senang. Karena aku sadar aku dilahirkan oleh keluarga serba kekurangan. Di pikiranku aku hanya ingin uang. Karena aku telah tenggelam dalam hipnotis temanku. Ketika aku beranjak kelas 2 SMA. Aku tertarik dengan seseorang laki-laki yang kukenal di sekolah sebagai abang kelas. Aku kagum, akan  ketampanannya. Aku benar-benar terpikat sehingga aku mencoba menghubunginya.
Dan… ternyata dia merespon. Alangkah senangnya. Hatiku benar-benar senang, melayang rasanya. Entahlah, aku mengira ini mungkin cinta yang sebenarnya, cinta yang membuat hati manusia berbunga-bunga. Ketika penyakit cinta itu kambuh.
Kisah cinta kami pun berjalan, terbersit dalam hati. Apakah ini jodoh tuhan untukku. Yang dulunya aku suka laki-laki yang bermateri, bahkan saat bersama laki-laki ini, sedikit pun tak terpikirkan olehku tentang materi. Inilah jodohku.
Ternyata aku sulah besar. Semakin jauh aku menjalani hubungan itu. Semakin jauh pula aku tahu banyaknya kekurangan yang ada pada laki-laki ini. Kekurangan yang memang aku tak bisa terima. Aku tak suka hidupku di atur. Orang tuaku yang mengaturku yang mengaturku saja, aku bisa tak suka. Apalagi seorang laki-laki yang hanya status pacar berani mengatur. Semakin lama pikiranku semakin ke posisi negatif tentang laki-laki ini. Semakin lama aku semakin bosan dengan hubungan ini. Dan kemudian, aku berniat meninggalkan laki-laki ini dengan cara apa pun. Tanpa aku memikirkan perasaannya. Nggak tahu cara apa yang harus ku lakukan.
Dan, lalu ada seorang laki-laki yang tiba-tiba menghubungiku. Tanpa identitas, dia hanya menanyakan kabarku dan lalu memutuskan pembicraannya. Suara itu membuat ku penasaran. Siapakah gerangan itu. Ternyata dia salah satu laki-laki dari masa laluku, yang entah kenapa tiba-tiba laki-laki ini muncul dalam kondisi  yang benar-benar bagus. Dimana saat ini aku ingin menjauh dan mencari alasan untuk bisa meninggalkan pacarku yang sekarang. Tak hanya pacar aku juga menghindar dari teman terburuk yang pernah ku kenl itu. Yah.. bisa di katakan buruk. teman yang  mengajakku ikut bersamanya ke neraka.
Sasaran yang tepat aku lngsung melanjutkan hubunganku dengan laki-laki ini dan dengan lantang meninggalkan pacarku. Dengan alasan aku masih cinta pada mantanku."Hanya itu yang jai penyebab hubunganku dan kamu berakhir“ Kataku padanya. Dan dengan emosi besar dia menjawab. “oh.. begitu, baiklah, anggap saja tidak ada perkenalan di antara kita, assalamualaikum!“. Dan aku menjawab “ wa’alaikumsalam“. Hmmm… pikiranku menjadi tenang, lega, bangga, dan merasa bebas dan kurasa ku telah memilki segalanya. saat aku jalani hubunganku dengan mantan pacarku, dan sekarang berubah status kembali menjadi pacarku. Aku juga merasa cocok dengan laki-laki yang sekarang. Cocok dari segi material. Secara, laki-laki ini punya pekerjaan yang mapan, keturunan dari keluarga yang bermateri. Aku merasa ia sudah cukup bagiku dengan hasrat tak ingin ku lepas lagi apa yang sudah ku genggam. Aku merasa bangga, punya kekasih sepertinya. Apalagi kedua orang tuanya telah menyetujui hubungan kami. Tunggu apalagi, kurasa memang itulah saatnya jodoh itu milikku.
Orang tuaku yang tak menyukai laki-laki tersebut sehingga mereka tak menyetujui hubungan kami, termasuk keluarga besarku. Mereka selalu menitip pesan kecil untukku. “carilah jodoh sesuai agamamu, yang bisa membawamu ke surga. Tuntutlah ilmu disaagt muda, jodohmu akan datang untukmu jika kamu berilmu, itulah bekalmu untuk hari tua“. Aku menganggap perkataan itu hanya siraman kalbu setiap hari yang ku dengar. Bahkan aku tak mau peduli lagi dengan kalimat yang sudah menjadi makananku sehari-hari. Aku tak peduli apa kata orang tuaku. Hyang aku pertahankan hanya ingin terus bersama kekasihku. Kurasa inilah cinta. Cinta yang membuat buta, tapi bukan buta mata tapi buta hati. Seorang wanita yang memang benar-benar buruk, yang di bodohkan oleh materi. Di butakan oleh nafsu belaka. Hubunganku terus berlanjut dengan laki-laki ini. Hingga aku lulus SMA.
Untuk merayakan kelulusan ini aku diajak makan keluar bersamanya. Dimana saat ini aku serasa semakin melambung bak menyentuh langit-langit bumi, akulah orang yang paling bahagia hari ini. Aku habiskan waktu seharian bersamanya. Ke esokan harinya, kebahagian yang aku miliki ku kira tak kan berakhir karna dia seorang anak negara. Dia hanya mengabdi pada negara. Kami di pisahkan oleh tugasnya. Tugas sebagai seorang anak negara yang tak bisa elakkan. Dalam waktu setengah tahun, mengejar pendidkannya. Kemarinnya aku senang, Sekarang lelaki bodoh itu hanya menitipkan kerinduan yang amat sangat mendalam. Dan yang biasa hari-hariku bersamanya, sekarang hanya ada rindu. Aku bisa bersabar, aku setia menunggunya kembali. Berharap ia menjemputku untuk meraih kebahagian bersamanya. Sempat aku terkagum pada diriku sendiri, luar biasanya kesabaranku menunggunya hingga mendekati waktu enam bulan. Itu brarti ia akan kembali. Sambil aku melanjutkan pendidikanku di sebuah universsitas.
Sebulan lagi..seminggu lagi.. aku hampir berhasil bersabar demi seorang laki-laki. Berhasil menemukan cinta, berhasil menjadi wanita yang mencintai. Sesaat seminggu sebelum ia kembali. seorang wanita menghubungiku dengan pengakuan“aku pacarnya, seminggu lagi ia akan pulang. Ia akan kerumahku untuk mempersiapkan semua…. Dan tolong anda tidak mengganggu hubungan kami, saya harap anda bisa mengerti“. Runtuh rasanya langit menghantap bumi, kaimat itu berdebgung bagaikan petir berdengung bagaikan petir menyambarku. Sungguh beum pernah sma sekau aku merasa sesakit ini, sakit..sungguh sakit, sakit yang tidak aku tahu penawarnya. kaimat-berdengung bagai nyanyian di teingaku. Seminggu lagi.. aku membayangkan seminggu lagi kebahagian menjemputku. Ternyata aku salah, kelak kesengsaraan lebih dulu menjemputku. Dan waktu yang ku tunggu seminggu itupun tiba. Aku mengambil keputusan, saat ia telah kembali. Kembinya yang duunya ku harapkan kini berubahinginku musnahkan. Aku ingin penjeasan semua dari nya, dan masih berharap bahwa, kaimat petir itu bukanah peristiwa yang sebenarnya. Nyatanya aku salah besar, kaimat-kalimat petir itu bahkan nyata. Nyata kalimat yang sama keluar dari mulutnya.“ Sebenarnya aku telah memiliki kekasih yang benar-benar menjadi keseriusanku, sekali lagi aku mohon maaf, bukan niatku buat kamu sakit, tapi…“ tak ingin aku dengar apa pun lagi dari laki-laki ini. Yang kurasa hatiku membeku, dadaku tersa sesak, airan darahku serasa berhenti, jantung brhenti berdenyut,dengan berat mulutku berkata“ sudah cukup, anggap saja kita nggak pernah saing kena sebelumya“.
Teralalu cepat karma itu berlaku, duunya aku berpikir, persetan dengan karma. Tapi… itu semua sekarang menjadi fakta. Bukan sebuah opini yang ku anggab dulu. Sakit, sungguh sakit, perih, tak bisa ku eakkan. Kesadaran  terlambat menghampiriku. Bahkan aku tak pernah sadar teah menyakiti hati banyak orang, baru tersadar inikah rasanya tersakiti??
Sungguh keadaan yang sangat-sangat  buruk. Semua terulang, kalimat itu… kalimat yang sering di ucapkan orang tuaku, kalimat yang ku abaikan, kata-kata yang tak ku hiraukan. Pikiran ku mulai terbuka, aku terlambat menyesai perbuatan-perbuatanku. Aku benar-benar telah tenggelam di jurang kesesatan. Kini aku hanya bisa mengisi apa yang telah tejadi.ingin rasanya ku putar kembali waktu yang teah berlalu itu. Akan ku perbaiki semua dosa-dosaku. Seharusnya tak tenggelam sejauh ini,ke dalam jurang dosa. Sakit hati yang ku rasa, sungguh sangat sakit, aku bingung apa yang akan kulakukan.
Hingga suatu ketika, aku mencoba mendekati sajadah, dan bersujud, aku menyembah sang kuasa. Di sini, kedamaian, kenyamanan, dan kebahagiaan ku dapat. Ketenangan jiwaku yang kurasa buat ku lupa akan rasa sakit itu. Sungguh kebahagiaan yang belum pernah ku rasa sebelumnya. Disini aku tersadar akan kata-kata orang tuaku. Jodoh bakan datang jika kita berilmu. Saat ini aku tersadar akan agama, bahwa akan ada akhirat di ujung sana menungguku. Ini saatnya memperbaiki masa remajaku yang suram. Kini aku telah menjadi mahasiswa. Artinya aku telah dewasa. Dewasa dalam artian bisa membedakan yang mana baik dan yang mana buruk. Terus dan terus jadwal harianku terpadatkan oleh kegiatan kampus dan pengajian. Dengan niat di setiap pagi,“ hidup dengan tujuan orang tua dan akhirat“. Tak pernah lagi terpikir oleh ku tentang jodoh. Bahkan aku benci lelaki, terkecuali ayahku. Ku rasa laki-laki itu sama. Hanya memanfaatkan wanita-wanita bodoh. Merusak harkat dan martabat wanita. Dan disini aku mulai sadar bagaimana tersakiti dan menyakiti.
Aku menghabiskan waktuku untuk belajar dan belajar, demi ilmu. Agar aku bisa lepas dari orang-orang yang membodohiku. Amarahku pada laki-laki membuatku alergi akan setiap laki-laki yang mendekatiku. Dalam waktu yang terus berlanjut. Masa pendidikan ku selesai. Aku telah berhasil meraih gelar sarjana, aku telah berhasil  menjadi anak kesayangan orang tua,aku telah berhasil menjadi apa yang mereka inginkan, dan aku berhasil meraih ridho Allah.
Kini usiaku beranjak 26 tahun, dimana aku di sibukkan dengan jadwal sebagai seorang guru. Seorang pendidik. Di sela waktu aku mengikuti pengkajian di mesjid-mesjid. Suatu ketika orng tuaku bertanya“ teman-teman mu kini sudah berkeluarga , telah memilki pendamping, bahkan ada yang sudah punya momongan. Nah kamu sendiri kapan??“.
Terhenyak ku mendengar kata-kata itu. Tak pernah terpikir oleh ku tentang hal itu. Dan tiba-tiba orang tuaku menanyakannya. Apa yang harus ku lakukan. Aku bingung, di hadapkan oleh pertanyaan  yang benar-benar buatku frustasi mendengarnya. Bagiku ini sebuah beban berat. Dan kemudian aku mencoba menghindar dari pertanyaan itu dengan berusaha mengabaikannya. Walau dihati terasa nyesek. Pertanyaan-pertanyaan itu setiap tahun berdengung, kata-kata itu kini kerap kali ku dengar“ kapan kami bisa melihatmu bersama seorang suami??.“. lagi-lagi aku tak pernah menghiraukannya.
Usia ku sekarang beranjak 30 tahun. Bulan perbulan berlanjut, semua temanku sebayaku telah berkeluarga. Hanya aku. Aku yang saat ini terasingkan oleh mereka. Aku hanya menatap kebahagiaan mereka bersama keluarga kecil mereka.. sedangkan aku, aku hanya sendiri. Disini timbul rasa sedikit iri. Sampai kapan aku mau hidup sendiri. Sudah berapa banyak laki-laki yang telah ku abaikan. Mereka yang dengan sengaja kerumah dengan niat yang tulus berhadapan dengan orang tuaku. Mereka menginginkanku, tapi aku tak pernah berkata iya,setiap mereka yang datang kerumah, aku hanya menjawab “maaf, aku belum siap“.
Sampai kapan ku terus seperti ini. Kini dosa besar membayangiku. Dengan berburuk sangka kepada pencipta. Dengan berpikir “ mungkin aku di takdirkan untuk tidak berjodoh“. Kini di setiap ibadahku ku selipkan seberkas doa“ ya Allah pertemukan aku dengan jodohku. Jodoh seagamaku. Jodoh yang bisa membawaku bertemu dengan-Mu dan nabi-Mu“. Tanpa henti doa itu selalu terucap, aku pasrahkan semua kepada-Nya“.
Kegitanku sehari-hari terus berlanjut. Menganjar dan pengkajian. Suatu hari seperti biasa, sesudah selesai mengajar, aku mengikuti pengkajian di sebuah mesjid Al-makmur dimana aku bersama teman-temanku. teman-teman yang telah memilki keluarga. Terkecuali aku. Pengkajian Kali ini, terasa berbeda bagiku. Tak biasanya yang pemateri pengkajian kali ini seorang laki-laki. Laki-laki yang belum pernah ku kenal sebelumnya. Siapakah dia???? Hatiku terus bertanya-tanya. Tanpa mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutku. Sungguh aneh, perasaan apa yang kurasa.rasa penasaranku terhadap laki-laki ini sangat besar. Siapa dia???.
Sesat kemudian pengkajian selesai. Aku pulang dengan hati yang benar-benar aneh. Perasaan apa ini. Bayangan laki-laki itu saat memberi materi benar-benar buatku terhipnotis. Terhipnotis akan kelembutannya. Sesaat pikiranku terkejut. Apa aku akan kembali ke masa laluku?. Masa lalu yang menjerumus itu. Perasaan takut bercampur senang. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya aku di rumah aku terhentak kaget. Siapakah gerangan di depan mataku. Siapa tamu ini. Apa ini hanya halusinasiku hari ini saja. Sekarang di hadapankulaki-laki yang baru saja ku angan-angankan. Laki-laki yang membuat hari ini beda, bertamu kerumah dengan kedua orang tuanya dengan bermaksud meminangku.oh… apa ini jodoh Tuhan untukku. Sesaat mulutku terbungkam, saat orang tuanya menanyakan hal ini. Dan dengan cepat suaraku berucap“ aku siap, aku benar-benar siap menerimanya dengan nama Allah“,
di usiaku yang ke 30 tahun. Aku telah berhasilmiliki semua. Terutama jodoh. Jodoh yang dikirim Tuhan untukku. Ternyata memang benar. Jodoh itu tak perlu di cari. Wanita adalah penunggu,jodoh di tangan Tuhan. Walau aku menikah di usiaku yang ke 30. Aku bahagia. Bahagia bersama jodoh yang benar-benar kiriman-Nya. Seseorang yang bisa memimpin keluarga. Dan insyaallah, dia bisa membawaku nantinya  di akhirat untuk bertemu dengan-Nya kelak.